<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SimplyGonzi</title>
	<atom:link href="http://simplygonzi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simplygonzi.com</link>
	<description>&#124; random things in my head</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Jan 2013 09:33:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Always on My Mind</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2013/01/28/always-on-my-mind/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2013/01/28/always-on-my-mind/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 15:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[bisikan senja]]></category>
		<category><![CDATA[senja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=550</guid>
		<description><![CDATA[Senja sore tadi membuatku menghilang sementara demi menikmati tenggelamnya di ufuk barat. Bergegas pergi ke dataran tinggi terdekat dari kota. Hanya sebuah warung kopi biasa, namun view yang dapat dilihat dari sana sungguh superb. Warna jingga kemerahan selalu membuatku takjub. Aku duduk memandangi senja. Tak ingin senja cepat menghilang dan luput dari pandangan. Disana aku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.flickr.com/photos/tie14/7189618314/in/set-72157629233507834/"><img class="alignleft" src="http://farm6.staticflickr.com/5328/7189618314_322ab379e3.jpg" alt="" width="400" height="234" /></a>Senja sore tadi membuatku menghilang sementara demi menikmati tenggelamnya di ufuk barat. Bergegas pergi ke dataran tinggi terdekat dari kota. Hanya sebuah warung kopi biasa, namun view yang dapat dilihat dari sana sungguh superb. Warna jingga kemerahan selalu membuatku takjub. Aku duduk memandangi senja. Tak ingin senja cepat menghilang dan luput dari pandangan.</p>
<p>Disana aku kembali mendengar bisikan tentang senja. Sebuah senja yang mengingatkanku pada sesuatu. Sambil menikmati siluet gunung yang indah, mentari yang akan bersembunyi, lalu kudengarkan sebuah lagu untuk menemaniku menikmati senja di sore tadi.</p>
<blockquote><p>Maybe I didn&#8217;t treat you<br />
Quite as good as I should have<br />
Maybe I didn&#8217;t love you<br />
Quite as often as I could have<br />
Little things I should have said &amp; done<br />
I just never took the time</p></blockquote>
<p><span id="more-550"></span><br />
Perlahan langit semakin gelap. Namun tetap ada warna hitam dan jingga yang selalu mengingatkanku dengannya. Kupejamkan mata, menikmati sore yang indah ini, dengan tetap menjaga apa-apa yang memang tempatnya hanya di hati, tanpa baik untuk diungkapkan. Kutarik nafas dalam-dalam. Mengingat segalanya yang terjadi di hari sebelumnya. Halaman demi halaman silih berganti, berdesakan ingin diingat. Kuhembuskan perlahan, mengharapkan segala lara akan ikut menguap dengan udara, dan lenyap dengan senja.</p>
<blockquote><p>But you were always on my mind<br />
You were always on my mind</p></blockquote>
<p>Kubuka mata, senja semakin menghilang. Hanya ada sisa warna terang diantara yang gelap. Dia telah menutup hari ini dengan indah.</p>
<blockquote><p>Maybe I didn&#8217;t hold you<br />
All those lonely, lonely times<br />
And I guess I never told you<br />
I&#8217;m so happy that you&#8217;re mine<br />
If I made you feel second best<br />
I&#8217;m sorry I was blind</p></blockquote>
<p>Ada rasa sesak dalam benak. Ada rasa ingin lenyap dalam dekap.</p>
<blockquote><p>You were always on my mind<br />
You were always on my mind</p></blockquote>
<p>Ada rasa syahdu dalam rindu. Ada rasa deru dalam haru.</p>
<blockquote><p>Tell me, tell me that your<br />
Sweet love hasn&#8217;t died<br />
Give me, give me one more chance<br />
To keep you satisfied<br />
Satisfied<br />
Little things I should have said &amp; done<br />
I just never took the time</p></blockquote>
<blockquote><p>You were always on my mind<br />
You were always on my mind<br />
You were always on my mind<br />
You were always on my mind</p></blockquote>
<p>Senja selalu menutup sebuah hari. Senja selalu ada dalam pergantian. Senja ada dalam pertemuan dan perpisahan. Dan senja, kembali berbisik hari ini. Namun hatiku tetap memilih untuk tetap menjaganya dalam hati. Membiarkannya berbisik hanya untuk hatiku sendiri, tanpa sesiapapun perlu tau.</p>
<p>Bahwa aku rindu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2013/01/28/always-on-my-mind/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ribet? Ngga juga. Just feel it!</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/11/08/ribet-ngga-juga-just-feel-it/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/11/08/ribet-ngga-juga-just-feel-it/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Nov 2012 17:17:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[nyaman]]></category>
		<category><![CDATA[ribet]]></category>
		<category><![CDATA[rumit]]></category>
		<category><![CDATA[terhubung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=544</guid>
		<description><![CDATA[“Cinta adalah ketika engkau merasa terhubung dengan seseorang. Orang yang mengubah hidupmu, membuka pikiranmu. Yang membagi rahasia-rahasianya denganmu. Yang mengerti dirimu, yang pikirannya bekerja dengan cara yang sama dengan pikiranmu. Seseorang yang kamu kagumi dan menerima segala kebiasaan dan keanehanmu. Yang ketidaksempurnaannya kau terima apa adanya. Seseorang yang membuatmu merasa ada di rumah, di mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Cinta adalah ketika engkau merasa terhubung dengan seseorang.<br />
Orang yang mengubah hidupmu, membuka pikiranmu.<br />
Yang membagi rahasia-rahasianya denganmu.<br />
Yang mengerti dirimu, yang pikirannya bekerja dengan cara yang sama dengan pikiranmu.<br />
Seseorang yang kamu kagumi dan menerima segala kebiasaan dan keanehanmu.<br />
Yang ketidaksempurnaannya kau terima apa adanya.<br />
Seseorang yang membuatmu merasa ada di rumah,<br />
di mana pun kamu berada.”</p>
<p>—   Enno, 7112012</p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p>Ada beberapa orang yang ribet banget nanya-nanya soal kapan nikah, kenapa belum punya pasangan, ini itu, yang kesannya mengintimidasi. Ada pula yang bilang, “gw cuma pengen elu bahagia”, hey, emang gue keliatan gak bahagia gitu? Ada lagi yang iseng banget bilang, “gw pengen ada seseorang yang jagain elu”, dan gw so far masih bisa handle sendiri kok. Maksutnya gini, nasehatin itu boleh, boleh banget, tapi jangan sampe yang dinasehatinnya itu merasa terintimidasi, merasa digurui, apalagi merasa urusannya terlalu dicampuri.</p>
<p>Selalu inget kata-katanya mba Devi Eriana, “There’s someone for everyone, it’s just a matter of time”. See? So far, saya masih nyantai aja walau ada orang yang bilang kalo umur segini, seperempat abad, udah injury time, menurut saya sih belum ya. Masih butuh waktu buat mencari nyaman yang bener-bener nyaman. Nyaman itu ngga bisa pura-pura. Nyaman itu hanya iya dan tidak. Nggak ada ruang abu-abu alias kepura-puraan. Ujung-ujungnya nanti harapan palsu, ish!</p>
<p>Saya agak kurang ngerti untuk beberapa orang yang terlalu mempertanyakan ini itu tentang pribadi saya, mereka bilang saya tertutup, ini itu. Buat saya, memang ada batasan-batasan tertentu yang membuat diri saya sendiri ngga mengijinkan beberapa orang dari mereka untuk masuk. Saya cukup extrovert kok, hanya saja pada orang tertentu. Kalo kamu bukan orangnya, berarti memang kita beda frekuensi. Jadi saling mendengarkan frekuensi masing-masing aja, daripada berusaha terus-terusan ada di frekuensi yang sama, tapi intermitten terus. Simple aja sih.</p>
<p>Jika pribadi saya sudah cukup terusik, bukan ngga mungkin saya menghindar, sebisa mungkin. Rumit? Hey, wanita itu semuanya rumit, yang membedakan hanya tingkat kerumitannya saja. Bersyukurlah jika saya masih membalas sapaan, masih ingin berbasa-basi, apalagi masih mau diajak ngobrol, tandanya saya ga ada masalah sama kamu. Tapi jika saya sudah terlihat menghindar, berbicara seperlunya saja, pasti ada sesuatu dalam diri saya yang mulai terusik, dalam hal prinsip atau privasi.</p>
<p>Sesuatu yang disebut nyaman, cinta, rasa, membuka hati, atau apalah yang berhubungan dengan itu, tidak bisa dipikirkan, tapi dirasakan. Jadi kalo ditanya, kenapa kamu ngga bisa membuka hati? Kenapa kamu ngga bisa nyaman sama dia? What should I answer. It’s just, my heart doesn’t feel it. Hati itu terhubung dengan sendirinya. Jangan memaksa, dan jangan dipaksakan.</p>
<p>Seperti beberapa kalimat pembuka diatas, cinta itu ketika kamu merasa terhubung. Jangan tanya caranya gimana merasa terhubung dan harus gimana supaya merasa terhubung, it just happens. Ketika kamu bertemu dan klik, seperti itulah rasanya. Saat ada banyak hal yang kamu tidak merasa rumit ketika bersamanya, walaupun kamu sendiri tau, diri kamu saja sudah cukup rumit.</p>
<p>And the last, feels like going home, and feels like at home whole day.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/11/08/ribet-ngga-juga-just-feel-it/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesisir Pantai</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/10/16/pesisir-pantai/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/10/16/pesisir-pantai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Oct 2012 00:37:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[ku beranjak dari tidurku mencoba melukis pagiku berharap keajaiban kan datang daun tak bergerak sang burung terdiam menanti senyuman berat ’tuk melangkah memulai hari ini namun semua itu sirna kau kini ada sebuah kecupan darimu cukup membuat duniaku terasa lebih terang secangkir teh hangat darimu cukup ’tuk awali hari terindah dalam hidupku Kau kini ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.iwrotethisforyou.me/2009/02/ghost-ships.html"><img src="http://farm4.static.flickr.com/3121/3227437944_1c35e4f8ac.jpg?v=0" alt="" width="290" height="282" /></a></p>
<p>ku beranjak dari tidurku<br />
mencoba melukis pagiku<br />
berharap keajaiban kan datang<br />
daun tak bergerak<br />
sang burung terdiam<br />
menanti senyuman</p>
<p>berat ’tuk melangkah<br />
memulai hari ini<br />
namun semua itu sirna<br />
kau kini ada</p>
<p>sebuah kecupan darimu<br />
cukup membuat duniaku terasa lebih terang<br />
secangkir teh hangat darimu<br />
cukup ’tuk awali hari terindah dalam hidupku</p>
<p>Kau kini ada – Sheila On 7</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Sore itu, kamu tiba-tiba bilang kalo besok pagi kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu bilang aku ngga boleh banyak bertanya, hingga esok fajar menyingsing. <em>Hmm, satu tempat? Ah, paling kawasan pegunungan dekat dengan kota ini</em>. Aku pikir begitu. Aku sudah membayangkan dingin dan segarnya udara pegunungan, indahnya kebun teh di sekitarnya, dan lainnya.</p>
<p>Pagi tiba, dan aku tidak mempersiapkan apapun. Kamu pun tidak. Kita hanya memakai pakaian yang dipakai saja, dan tidak membawa bekal pun, tidak membawa kamera pun. Sama sekali tidak. Kemudian aku berfikir lagi, <em>ngga jauh, ini mah ke Puncak. Eh tapi kenapa pagi-pagi begini? Puncak kan deket.</em> Kamu hanya senyum-senyum melihat aku yang memang terlihat sedang berfikir. Kamu cuma bilang, <em>kita mau ke pantai, </em>sambil tersenyum.</p>
<p>Hee? Pantai?<br />
<span id="more-538"></span><br />
Kita pergi menggunakan motorku, tentu saja kamu yang mengendarainya. Tidak ada yang pernah tau, bahwa kita pergi bermotor ke wilayah Pelabuhan Ratu. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai-sampai mau membawaku jauh ke Pelabuhan Ratu, mengendarai motor pula. Cape? Pasti. Tapi aku ngga melihat itu sama sekali dari raut wajahnya. Kita ngobrol sepanjang jalan, kita tertawa haha hihi walaupun medan yang kita lalui berkelok-kelok. Bahkan kita masih bisa tertawa lalu bersembunyi ketika motor yang kita kendarai sedikit <em>kena</em> motor orang lain, karena pas kelokan, entah motor kita atau motor dia yang kelebihan belok, jadi footstepnya kena. Yah, motor orang itu jatuh, lalu kita lari dan bersembunyi. <em>Bodoh!</em> Itu yang aku sempat bilang. <em>Kenapa kamu ngga berhenti, itu dia jatoh.</em> Kamu hanya tertawa-tawa sambil bilang, <em>Hey, kalo aku berhenti, terus aku dikeroyok, terus kamu gimana? Itu dia tadi bertiga, disini aku cowo cuma sendiri, mati nanti. Trus kamu mau apa kalo aku dikeroyok? Jalan pulang aja ngga apal</em>. Lalu aku ikut tertawa, hahaha, iya benar juga ya. Akhirnya kita bersembunyi dibalik bukit sekitar 15 menit sambil masih menertawai kebodohan tadi.</p>
<p>Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah ketiga orang tadi yang satu motor itu sudah menghilang entah kemana. Dan Alhamdulillah pun, kita ngga diincer pada hari itu. D’oh!</p>
<p>Pesisir pantai sudah mulai terlihat, kamu menawarkan untuk sarapan. Mengingat kita memang pergi pagi dan tidak membawa perbekalan sama sekali. <em>What a real getaway and hideaway</em> <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/big_grin.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="big grin" /> Kita makan di warung nasi pinggir jalan, sarapan yang sederhana dengan lauk yang sederhana, tapi kita makan dengan lahapnya, mungkin lelah sehabis tertawa-tawa tadi. Sungguh aku masih ingin senyum-senyum sendiri jika mengingat hari itu <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /></p>
<p>Laluuuu, sampailah kita di pantai. Lalu aku mengingat kebodohan selanjutnya. Kita pergi ke pantai tapi ngga bawa baju ganti. Terus kita mau ngapain di pantai? <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/laughing.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="laughing" /> Yah, jadinya cuma duduk-duduk di pasir, ngeliatin ombak, dan ngedengerin suara ombak yang indahhhh banget. Aku menatap laut itu lama. Menikmati indahnya karena ini pertama kalinya ada seseorang yang punya arti yang lain di hatiku, yang membawaku ke pantai. Kita duduk bersama, berdua, berbicara satu sama lain sambil menatap pantai. Lalu ada kalanya kamu melihat aku melamun menatap pantai, kamu seketika mengangkat badanku, lalu ingin menceburkan aku ke air. Oh noooo!!</p>
<p><em>Kamu tau kan kita ngga bawa baju ganti? Nggaaaaaaa, plis jangan ceburin aku plis.. Plis turunin akuuuu.</em></p>
<p>Sialnya kamu hanya tertawa-tawa sambil sesekali menurunkan badanku sedikit lagi ke air. Lantas aku malah menarik badan kamu karena aku bener-bener ngga mau pulang dengan baju basah. Akhirnya kamu menurunkanku juga di bagian pasir. <em>Ah, bodoh!</em> <em>Well, tapi aku menikmatinya <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" /></em></p>
<p>Lalu kita melanjutkan perjalanan lagi, menuju Karang Hawu. Masih di pinggir pantai, namun banyak sekali karang disitu, sayangnya, sekali lagi kita ngga bawa kamera <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /> Lalu kita jalan-jalan sampai ke Hotel Samudera, yang konon masih menjadi ‘tempat tinggal’ Nyi Roro Kidul. Ah, suasana horornya dapet, mending nggak lama-lama deh lewat situ.</p>
<p>Ngga lama dari itu, agak siangan kita pulang, supaya sampe rumah masing-masing ngga begitu sore, mengingat perjalanan yang cukup jauh.</p>
<p>Damn, I miss those moment. Really miss those moment <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/winking.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="winking" /></p>
<p>p.s: jauh terjadi sebelum film perahu kertas itu ada, bahkan sebelum novelnya terbit <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/10/16/pesisir-pantai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A Tiny Bit of Perahu Kertas</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/10/13/a-tiny-bit-of-perahu-kertas/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/10/13/a-tiny-bit-of-perahu-kertas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Oct 2012 18:47:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[perahu kertas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Remi : “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang gak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.” Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan. Kugy : “Tapi … orang itu kan kamu … aku … aku nggak pernah minta apa-apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Remi : “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. <strong>Carilah orang yang gak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.</strong>”</p>
<p>Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan.</p>
<p>Kugy : “Tapi … orang itu kan kamu … aku … aku nggak pernah minta apa-apa … tapi … tapi, kamu kasih semuanya …”</p>
<p>Kugy berkata terengah, di sela isakan dan desakan yang begitu kuat menyesak di dadanya.</p>
<p>Remi : “Iya, Gy.”</p>
<p>Remi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Kugy.</p>
<p>Remi : “<strong>Kamu mungkin sudah ketemu. Saya yang belum.</strong>”</p>
<p>Suara Remi mulai bergetar.</p>
<p>Remi : “Saya yang belum …”</p>
<p>Ucapnya lagi, separuh berbisik. Seolah ia sedang memberi tahu dirinya sendiri.</p>
<p>Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Bagian kecil dari film Perahu Kertas yang <em>ouch! </em><em>b</em>anget. Pasti banyak yang punya pengalaman sama dengan Remi ataupun Kugy, bahkan Keenan atau Luhde, but I thought, I’ve ever been on the same position as Remi. I keep it in silence of what, who, and when I felt it. But I did it in the past.</p>
<p>I find myself on Remi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/10/13/a-tiny-bit-of-perahu-kertas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Akrostik: Rectoverso</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/09/19/akrostik-rectoverso/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/09/19/akrostik-rectoverso/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2012 17:26:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[akrostik]]></category>
		<category><![CDATA[rectoverso]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=534</guid>
		<description><![CDATA[Tergelitik untuk mencoba membuat akrostik karena membaca sebuah tulisan disini. Maka inilah puisi akrostik pertama, seadanya dan sederhana yang dapat aku buat. Aku awali dengan Rectoverso. Kenapa? Karena disitu berkecamuk dua rasa, cinta dan benci. Entah ia terpisah satu sama lain, atau saling lebur. &#8212; Rasakanlah tiap-tiap bait di setiap sajak pagiku Embun yang jatuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tergelitik untuk mencoba membuat akrostik karena membaca sebuah tulisan <a href="http://wholesketch.wordpress.com/2012/09/18/akrostik-dan-anaphora" target="_blank">disini</a>. Maka inilah puisi akrostik pertama, seadanya dan sederhana yang dapat aku buat. Aku awali dengan Rectoverso. Kenapa? Karena disitu berkecamuk dua rasa, cinta dan benci. Entah ia terpisah satu sama lain, atau saling lebur.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><strong>R</strong>asakanlah tiap-tiap bait di setiap sajak pagiku<br />
<strong>E</strong>mbun yang jatuh setetes demi setetes pada daun, selalu menjadi saksi bisu dalam setiap goresan tinta yang kutoreh dari lubuk hati terdalam<br />
<strong>C</strong>inta yang pernah terlalu tinggi untukmu, membuatku amat bodoh untuk terus membiarkan pikiran ini berkecamuk hanya karena penuh dengan namamu<br />
<strong>T</strong>entu saja aku harus berpikir ulang, mengapa aku harus memikirkanmu disaat kamu memikirkan dia?<br />
<strong>O</strong>h, Pencipta alam semesta Sang Pembolak-balik Hati, ijinkanlah aku membalut yang telah patah, memohon kepadamu untuk segera mengganti yang hilang</p>
<p><strong>V</strong>isualisasi senja yang seringkali muncul, punya dua makna untukku, setidaknya mulai saat ini<br />
<strong>E</strong>ntah itu senja yang mengingatkanku pada kumpulan hal indah yang memang sengaja kukumpulkan di sebuah tempat di satu senja, ataukah senja yang segera mengingatkanku pada sebuah kematian mengenaskan di salah satu senja yang pernah aku ramu dengan penuh  kasih<br />
<strong>R</strong>asanya aku ingin ikut mati, tapi kuurungkan niatku, aku hanya mati suri, dan suatu hari, atau besok, aku akan bangkit lagi dengan rasa bahagia yang kubuat sendiri<br />
<strong>S</strong>elalu ada senja yang akan kita lewatkan setiap harinya, dan selalu ada senja yang mengingatkanku pada kedua hal tadi<br />
<strong>O</strong>h, tapi senja berikutnya mulai esok hari, tidak akan ada lagi kamu di pikiranku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/09/19/akrostik-rectoverso/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bisikan Senja</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/09/18/bisikan-senja/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/09/18/bisikan-senja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Sep 2012 04:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[bisikan senja]]></category>
		<category><![CDATA[mati]]></category>
		<category><![CDATA[peracau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=531</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah hal bodoh mungkin. Katakanlah begitu. &#8212; Hari kesepuluh, di bulan September, entah kenapa, pemikiran aku tertuju pada sebuah ide untuk membuat sesuatu di 6 hari berikutnya. Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film From Bandung With Love yang bilang, “Apapun bisa terjadi dalam 6 hari”. Tentu saja tidak ada hubungannya dengan film [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebuah hal bodoh mungkin. Katakanlah begitu.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Hari kesepuluh, di bulan September, entah kenapa, pemikiran aku tertuju pada sebuah ide untuk membuat sesuatu di 6 hari berikutnya. Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film From Bandung With Love yang bilang, “Apapun bisa terjadi dalam 6 hari”. Tentu saja tidak ada hubungannya dengan film itu. <em>It just happen</em>. Yap, di hari ke enambelas di bulan September, dia berulangtahun. Ada beberapa hal yang masih membuat aku tidak suka dengannya, tapi ada hal lain yang justru membawa aku pada keinginan untuk membuatnya bahagia. Entahlah.<br />
<span id="more-531"></span><br />
Selama enam hari. Di setiap harinya, aku membuat satu tulisan baru, di sela aku sedang tidak ingin berbicara atau berkomunikasi dalam bentuk apapun dalam tiga minggu terakhir. Aneh? Memang. Aku pikir, momen ulangtahun itu bisa mencairkan suasana antara aku dengannya. Atau, momen itu bisa membuat dia menjadi seorang yang lebih menghargaiku sedikit saja. Walaupun nyatanya aku memang masih butuh waktu untuk menyendiri dan menjauh darinya, karena terlalu sesak dengan hubungan yang pernah kita jalani dulu.</p>
<p>Ada dua hal, ketika seseorang memilih untuk menjauh. Satu, karena memang dia amat sangat membencinya, dan tidak pernah sedikit pun terpikir atau terlintas di benaknya tentang seseorang lainnya. Dua, karena memang dia berusaha membencinya setengah mati, karena pernah membuat dia menjadi sebuah tumpuan. Namun belum saja bisa, sehingga masih terus butuh waktu untuk menetralkan semuanya. Nampaknya, aku masuk kategori yang kedua. Tenang saja wahai Penerima, aku pasti bisa. Jangan khawatir.</p>
<p>Setelah enam hari berjalan, banyak hal baru yang kuceritakan padanya. Lalu hari H pun datang. Selama enam hari, pasti aku memikirkan tulisan apa yang ingin aku tulis di hari ini, dan seterusnya. Tentu saja kalo nggak niat, nggak akan ada yang namanya <a href="http://bisikansenja.wordpress.com/" target="_blank">Bisikan Senja</a>. Namun, sayangnya, respon yang diterima oleh sang Penerima, tidak begitu baik. Aku menginginkan dia membaca ke-27 tulisan yang ada, nyatanya pada hari itu dia hanya membaca 10 tulisan saja. Hmm, rasanya apa ya. Tulisan yang sudah ku kumpulkan hingga berjumlah 27, sia-sia begitu saja. Aku tunggu hingga tengah malam di penghujung hari ke enambelas di bulan September itu, namun tetap saja, hanya 10 tulisan yang dia baca. Sekarang, Bisikan Senja, kuputuskan sudah mati. Kasihan. Dia tidak diharapkan oleh sang Penerima. Katakanlah itu sebuah hal terbodoh yang pernah kulakukan untuk lelaki.</p>
<p><a href="http://bisikansenja.wordpress.com/" target="_blank">Bisikan Senja</a> sudah mati.</p>
<p>Ada sebuah pesan dari Sang Peracau disana,</p>
<p>&#8220;Bisikan Senja lahir hanya 6 hari, kemudian mati di akhir 16 September, pada tengah  malam. Sang Penerima Bisikan Senja, hanya membaca 10 tulisan saja  disini, hingga detik-detik kematian Bisikan Senja.<br />
Kemudian Sang Peracau memilih untuk Mati Suri, karena Sang Penerima pun  memilih untuk tidak membaca keseluruhan tulisan disini yang berjumlah 27  tulisan.<br />
Sang Peracau tidak mati, hanya mati suri, dan kemudian tidak bisa  berjalan seperti dulu lagi. Semua diluar ekspektasinya. Kekecewaan  muncul karena ulah Sang Peracau sendiri.</p>
<p>Sampai jumpa di Senja berikutnya, jika memang masih ada senja.&#8221;</p>
<p>Jika saja sang Penerima membaca ke 27 tulisan itu di hari yang sama, aku punya rencana lain untuk Bisikan Senja. Namun tampaknya memang tidak perlu ada cerita apapun lagi, karena memang tidak ada gunanya. Cukup satu kali aku melakukan kebodohan seperti ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/09/18/bisikan-senja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>[Hanya] Kenangan</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/08/25/hanya-kenangan/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/08/25/hanya-kenangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Aug 2012 06:59:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jo]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[If we were friends again, I might fall back down the same path. So being stranger is the best for us. via @ihatequotes #traveloveing &#8212; Just give me some space, sampai semuanya netral lagi ya Ibarat lagi makan junk food di restoran franchise yang terkenal, kalau mau makan di meja yang masih kotor banget belum diberesin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>If we were friends again, I might fall back down the same path. So being stranger is the best for us. via <a href="https://twitter.com/#!/ihatequotes">@ihatequotes</a> <a title="#traveloveing" href="https://twitter.com/search/?src=hash&amp;q=%23traveloveing">#traveloveing</a></p>
<p>&#8212;</p>
<p>Just give me some space, sampai semuanya netral lagi ya <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" /> Ibarat lagi makan junk food di restoran franchise yang terkenal, kalau mau makan di meja yang masih kotor banget belum diberesin gitu kan jadi males banget. Jadi nunggu mejanya rapi dulu, abis itu kita bisa duduk sambil makan pesenan yang udah dipesen. Lalu bisa makan dengan nyaman. Begitu juga dengan hati. Memasuki hati yang masih dihinggapi rasa-rasa yang tertinggal di masa lalu kok ya nggak nyaman banget. Berlindung dibalik kalimat, “Aku berusaha baik sama semua orang, begitu juga dengan orang-orang di masa lalu aku”. Hmm, ngga semuanya juga mesti dibaikin kan ada porsinya, dear <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/happy.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="happy" /><br />
<span id="more-527"></span><br />
Atau suatu hari, kamu pernah bilang, “Kamu ngga akan ngerti, lagian ini semua ngga ada hubungannya sama kamu kok”. Kamu bisa bilang begitu karena kamu nggak pernah berusaha membuat aku mengerti. Aku bukan cenayang juga yang bisa baca perasaan dan pikiran kamu dengan jelas sejelas-jelasnya tanpa kamu utarain. Sekali lagi, ketidaknyamanan aku bareng kamu itu, karena masih banyak unfinished business yang aku ngga pernah ngerti dan paham karena ngga pernah dibuat ngerti dan paham sama kamu. Masih banyak urusan di masa lalu kamu yang tertinggal di hati kamu, yang pernah berusaha aku tempatin. Aku nggak pernah main-main dalam mengutarakan perasaan, dan aku nggak pernah main-main sama kalimat-kalimat yang pernah aku lontarin, kalaupun dulu aku terlalu banyak berkata-kata buat kamu, dan sekarang mungkin aku perlahan menghilang, walaupun “I wanna get lost” means “please fight for me”, tapi karena kesempatan kamu itu ya dulu, pas aku juga berusaha buat kamu. Nggak ada gunanya saat kamu berusaha, aku tidak dan saat aku berusaha, kamu tidak peduli. Kamu merasakannya bukan?</p>
<p>Masih ingatkah, ketika aku menawarimu sebuah trip pendakian? Aku tidak berencana ikut karena memang tidak bisa. Aku tau kamu cinta dengan alam, makanya aku menawarimu trip itu. Satu kali tawaran, kamu ragu, kamu bilang tidak ada yang dikenal disana. Aku sudah berusaha meyakinkanmu, bahwa penyelenggara acara itu adalah temanku, dan kamu bisa berkenalan dengan yang lainnya tanpa harus merasa dikucilkan, dan aku bisa berusaha booking satu slot untuk kamu. Lalu kamu meragu. Beberapa hari kemudian, aku menawarimu kembali, karena aku dapat info bahwa slotnya masih ada, jika saja saat itu kamu bilang ‘iya’ saja, aku sudah langsung booking slot dan membayarimu dan langsung meminta itinerary acaranya. Sayangnya kamu bilang tidak. Mengapa aku begitu peduli untuk menawarimu ikut trip itu, karena aku tau kamu suka mendaki. Dan aku akan melakukan hal-hal yang mendukung kesukaan dan hobimu agar kamu senang. Memang agak aneh ketika hal-hal seperti ini diusahakan oleh seorang perempuan. Tapi tidak untukku, aku senang menyenangkan orang lain, termasuk kamu. Entahlah, mungkin rasa itu dulu terlalu tinggi untukmu.</p>
<p>Masih ingatkah dengan buku-buku yang kuberikan untukmu? Apa kabarnya sekarang? Sudah disampulkah? Buku-bukunya Norman Edwin, buku-buku tentang travelling, catatan perjalanan, dan lainnya, aku ingin membuatmu merasa aku begitu mendukung segala hobimu tentang travelling. Ajaibnya, aku merasa tidak kekurangan ketika itu untuk membuatmu bahagia. Asalkan kamu bahagia.</p>
<p>Tapi itu dulu.</p>
<p>Aku ingin menurunkan semua rasa yang pernah ada untuk kamu. Keputusan dariku hari itu, bukan berarti aku pernah menyia-nyiakan apa yang ada di kamu. Tolong jangan berfikir sepicik itu. Nampaknya kamu mulai mencari kambing hitam dari permasalahan yang ada. Mulai main salah-salahan siapa yang menyakiti siapa dan siapa duluan sia-siain siapa. Nope, itu nggak pernah ada di pikiranku sama sekali. Kamu masih ada di pikiranku aja itu sudah terlalu menyakitkan. Tapi aku nggak pengen kamu tau ini semua. Biarlah aku tetap dengan invisible mood, sampai semua netral lagi. Ya?</p>
<p>This is me, Ra, seorang perempuan yang sedang ingin menyendiri, dengan tanpa Jo sekalipun. Untuk rasa yang sedalam ini, emang belum aku ceritakan ke Jo. Untuk menceritakan ulang semua, aku nyesek. Karena dengan cerita, berarti aku mengingat ulang semuanya. Rasa itu, pahit itu, keputusanku untuk menyudahi semua. Mungkin semestinya, karena aku yang menginginkan perpisahan itu, maka akulah yang mesti lega dan berbahagia, ah nyatanya tidak. Aku masih saja benci dengan momen perpisahan.</p>
<p>I wanna get lost.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/08/25/hanya-kenangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pukul Tiga Pagi</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/08/22/pukul-tiga-pagi/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/08/22/pukul-tiga-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2012 20:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[alunan sedih]]></category>
		<category><![CDATA[males tidur]]></category>
		<category><![CDATA[menyakitkan]]></category>
		<category><![CDATA[tiga pagi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Masih belum bisa terlelap. Ada rasa mengganjal yang tiba-tiba menyergap. Menikmati malam dalam gelap. Teringat suatu masa dalam setiap bab. Pukul tiga pagi. Kinanti mengalun lembut. &#8220;.. Semoga tersalingkan asa, meluruhkan gulita, kelabu segera berganti..&#8221; Pukul tiga pagi. Untuk kamu yang tidak ingin diingat lagi. Untuk kamu yang meskipun tidak diingat, sudah semena-mena hadir. Pukul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih belum bisa terlelap. Ada rasa mengganjal yang tiba-tiba menyergap. Menikmati malam dalam gelap. Teringat suatu masa dalam setiap bab.</p>
<p>Pukul tiga pagi.</p>
<p>Kinanti mengalun lembut. &#8220;.. Semoga tersalingkan asa, meluruhkan gulita, kelabu segera berganti..&#8221;</p>
<p>Pukul tiga pagi.</p>
<p>Untuk kamu yang tidak ingin diingat lagi.<br />
Untuk kamu yang meskipun tidak diingat, sudah semena-mena hadir.</p>
<p>Pukul tiga pagi.</p>
<p>Tolong antarkan aku ke dunia mimpi dan imajinasi. Saat dimana aku bisa jadi apapun yang aku mau, dan aku bisa ada dimanapun yang aku kehendaki.<br />
Tolong antarkan aku ke gerbang dimana sudah tidak ada kau yang kemudian melontarkan kalimat-kalimat yang menyakitkan dan memenuhi memori menyedihkan.</p>
<p>Pukul tiga pagi.</p>
<p>Alunan sedih dari sebuah gramofon tua, Kinanti kembali mengalun lembut.<br />
Sedih. Perih. Miris. Meringis.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/08/22/pukul-tiga-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Males Tidur</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/08/22/males-tidur/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/08/22/males-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Aug 2012 19:40:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[Jo]]></category>
		<category><![CDATA[males tidur]]></category>
		<category><![CDATA[Ra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=517</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini, gue udah berusaha ngehubungin Ra di WhatsApp, di YM, lewat sms, dan semuanya no response Argh. Gue lagi kena gejala males tidur nih. Ya ya, mungkin cuma orang aneh kaya gue yang ngalamin kejadian kaya gini. Malam yang hening, sepi, yang buat sebagian orang jadi nikmat banget buat menghantarkan pikirannya ke alam mimpi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini, gue udah berusaha ngehubungin Ra di WhatsApp, di YM, lewat sms, dan semuanya no response <img src="http://simplygonzi.com/wp-content/plugins/yahoo-messenger-emoticons/emoticons/straight_face.gif" style="border:none;background:none;vertical-align:-25%;" alt="straight face" /> Argh. Gue lagi kena gejala males tidur nih. Ya ya, mungkin cuma orang aneh kaya gue yang ngalamin kejadian kaya gini. Malam yang hening, sepi, yang buat sebagian orang jadi nikmat banget buat menghantarkan pikirannya ke alam mimpi, tapi ngga buat gue, buat seorang Jo, wanita aneh. Malam, buat gue adalah waktu yang baiknya bisa dinikmati, rasakan keheningannya, rasakan kesunyiannya, rasakan damainya. Itu alasan-alasan ketika gue lagi males tidur. Tapiiii, kadang males tidur kaya gini, gue tetep butuh temen buat ngobrol, dan keberadaan Ra kali ini, nihil. Sigh!</p>
<p>Males tidur, sesak akan masa lalu, dan baca buku trave(love)ing, bukan pilihan yang tepat sebenernya, itu malah bikin gue males tidur, sekalian emang ngga pengen tidur sampe fajar nanti. Ah, fuck you, life!<br />
<span id="more-517"></span><br />
Melupakan, adalah satu-satunya yang amat sangat gue inginkan untuk ingatan tentang yang satu itu. Tapi sayangnya, usaha melupakan itu ternyata sejalan dengan sang memori menyeruak semakin keluar dari peraduannya. Dahsyatnya ingatan seorang wanita justru akan keluar ketika dia amat sangat berusaha untuk melupakan. Again, fuck you, life!</p>
<p>Oke, salahin Ra yang sekarang mungkin udah masuk ke alam mimpi dan ngga nemenin gue meracau. Dan salahin aja Ra, yang bikin gue malah jadi monolog kaya sekarang ini. *padahal emang udah doyan monolog juga sih, cuma lagi pengen nyalahin aja*<br />
Hal paling menyesakkan dari masa lalu gue adalah, perasaan tidak diinginkan. Oke, gue emang pernah meminta menyudahi sebuah hubungan, pertama kalinya, dan itu bukan jadi satu titik nyerah gue. Buktinya setelah itu gue masih berusaha dan berjuang. It is you who refuse to look, for God&#8217;s sake. And it is you who surrender. Pada titik terendah, gue pernah bilang gue nyesel ketemu dia, dan saat itu dia bilang, siapa duluan yang sia-siain? Goddamit! Lu bicara soal sia-sia? Gue ngga pernah sedikitpun berpikiran soal sia-sia. Gue harap lu segera sadar segimana usaha gue buat bikin semuanya baik dan segimana usaha gue buat bikin lu bahagia karena gue. Oke, mungkin gue salah, yang harusnya usaha sampe pol itu tuh cowo, bukan cewe. Dan masih banyak lagi kata-kata yang amat sangat menorehkan luka dan membekas hingga saat ini. Seperti layaknya paku yang telah tertancap pada kayu, ketika suatu saat pakunya sudah terlepas dari kayu itu, sayangnya bekasnya terus ada, no matter what.</p>
<p>Baru kali ini, gue ngerasain yang namanya, perasaan tidak diinginkan, tidak dipedulikan, tidak dihargai, diremehkan. Oke, mungkin cinta gue kepalang gede banget, makanya gue kecewa berat kaya gini.</p>
<p>Gue butuh sesuatu. Being a ghost at some place maybe. Iya, besok gue mau pergi ke suatu tempat. Luka gue ngga akan hilang gitu aja, tapi saat luka sudah tertoreh, dibutuhkan kaki untuk melangkah. Hmm, ngga usah bilang-bilang sama Ra lah ya, ntar tu anak nyariin gue. Gue yang ribet sendiri jelasinnya.</p>
<p>Ngilang. Invisible mood.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/08/22/males-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Last Letter</title>
		<link>http://simplygonzi.com/2012/08/08/the-last-letter/</link>
		<comments>http://simplygonzi.com/2012/08/08/the-last-letter/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Aug 2012 21:22:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[audio letter]]></category>
		<category><![CDATA[Jo]]></category>
		<category><![CDATA[terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simplygonzi.com/?p=513</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa orang yang memang sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita demi ketenangan hati dan pikiran. ~ @benzbara_ &#8212; Ada hal-hal yang memang harus segera diperjelas. Segala ke-absurd-an yang selama ini dijalani, nyatanya tidak dapat membuat hati Jo bisa tenang begitu saja. Baru kali ini, ketidakjelasan membuat Jo mudah uring-uringan. Padahal sebelum-sebelumnya Jo santai saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa orang yang memang sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari kehidupan kita demi ketenangan hati dan pikiran. ~ @benzbara_</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Ada hal-hal yang memang harus segera diperjelas. Segala ke-absurd-an yang selama ini dijalani, nyatanya tidak dapat membuat hati Jo bisa tenang begitu saja. Baru kali ini, ketidakjelasan membuat Jo mudah uring-uringan. Padahal sebelum-sebelumnya Jo santai saja dengan sebuah hubungan tanpa status atau hubungan after-the-official-relationship. Baru kali ini, Jo menghadapi pria yang amat sangat tidak mudah dimengerti sikap-sikapnya. Sulit untuk dijelaskan, tetapi banyak sekali hal-hal yang tidak cocok dan entahlah, agak sulit untuk mencapai titik temu.<br />
<span id="more-513"></span><br />
Besok adalah waktu yang telah ditentukan untuk mereka saling temu. Malam ini perasaan Jo biasa-biasa saja, dia sudah tau apa-apa saja yang harus disampaikan, dan sudah mengetahui pula kesimpulan yang harus diambil, karena ia tak yakin bahwa pria itu akan lebih dulu mengambil keputusan. Harus Jo yang memutuskan sesuatu, untuk memperjelas semua. Malam ini, tak ada hal yang ingin ia lakukan, hanya berharap esok segera datang agar semua cepat selesai.</p>
<p>Pagi hari menjelang, entah ada angin apa, Jo merasa ingin menulis surat. Anggaplah ini menjadi sebuah surat terakhir, karena selama ini, semua email yang masuk ke inbox pria itu dan segala surat tertulis yang pernah diberikan, tidak pernah ada jawaban. Satupun!</p>
<p>Hmm, satu lembar surat sudah siap. Dan entah ada angin apapula, Jo tetiba ingin membuat surat itu menjadi Audio Letter. Jo merekam suaranya dengan membaca surat itu dalam waktu hampir 4 menit, lalu digabungkan dengan lagu Antara Ada Dan Tiada (versi akustik), dan semuanya selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Untuk sesuatu hal yang tidak direncanakan dan untuk pertama kalinya membuat audio letter, usaha Jo untuk &#8216;merayakan&#8217; farewellnya kali ini patut diberi acungan jempol. Semua sudah siap.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>I thought (and I wish), this is the last letter. Aku nyerah, dan aku tidak ingin kita terluka lebih dalam lagi. I accept all the things that can&#8217;t be. Bagian paling menyedihkan dari kehilangan adalah ketidakmampuan kita menerimanya dan pembiasaan tanpanya. Waktu akan menyembuhkan segalanya, tapi waktu tidak akan menyembuhkan apapun, jika aku, kamu tidak melakukan apa-apa untuk saling membalut luka di pikiran dan perasaan masing-masing. And it&#8217;s time for me to go&#8230; now.</p>
<p>Bye.</p>
<p>~ Jo.</p>
<p>(<a href="http://simplygonzi.tumblr.com/post/28898604491/last-july-2012-i-thought-and-i-wish-this-is" target="_blank">The Audio Letter</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simplygonzi.com/2012/08/08/the-last-letter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
