Puber kedua?

Puber kedua? Is that really happen to people? Apa cuma sugesti aja karena adanya frase ‘puber kedua’?

Katanya sih umumnya terjadi pada pria yang memasuki usia 39/40-45 tahun. Kira-kira begitu. Atau ada yang mungkin mengalaminya ketika memasuki usia 50 tahunan. Eh tapi apa bener puber kedua umumnya terjadi hanya pada pria? Ya mungkin penjelasannya begini, menurut artikel ini katanya sih puber kedua juga terjadi pada perempuan, hanya saja umumnya, ketika perempuan menginjak usia ‘yang katanya’ sudah memasuki puber kedua, justru sibuk menghadapi suami yang mungkin pula sedang mengalami puber kedua dan juga anak-anak yang menuntut konsentrasi dan energy psikis penuh. Seolah-olah hanya pria yang mengalami puber kedua.

Puber kedua didasari pada kenyamanan psikologis. Menurut link yang ini puber kedua bisa dilihat dari beberapa gejala seperti berikut,

Pada pria:

– Umumnya mereka enggan tampil tua. Mereka mulai memperhatikan penampilannya. Bergaya bak anak muda, gaul.
– Merasa senang kembali berpetualang.
– Produktivitas hidup meningkat, mahir bernegosiasi.

Pada wanita:

– Terganggu atau berhentinya proses menstruasi (terjadi menopause). Hal ini terjadi karena gonadotrop tidak diproduksi lagi oleh kelenjar hypophysc. Efek yang terjadi adalah pusing, lesu, dan kurang bergairah. Akibatnya kestabilan emosi sering terganggu.
– Timbunan lemak menyusut sehingga kulit mulai keriput, rambut memutih. Keadaan ini berpengaruh pada kejiwaannya. Apalagi jika suami memandang hal itu sebagai suatu kemunduran
– Merasa ingin diperhatikan. Ingin merasa nyaman (kembali) secara psikologis.
– Tiba-tiba merasa sering butuh pujian, penghargaan, pelukan, belaian lembut.

Sebenarnya ada beberapa hal yang perlu diwaspadai ketika memasuki puber kedua, salah satunya yakni perselingkuhan. Pada masa ini, seringkali pria atau wanita yang sedang mengalami puber kedua terjebak dalam percintaan semu karena merasa tiba-tiba ada perhatian penuh dari pihak lain, atau ada kepedulian yang mungkin sedang tidak didapatkan dari sang suami. Mereka yang sedang mengalami puber kedua memiliki kecenderungan mengulang kembali masa percintaan, masa-masa awal pernikahan. Jika tidak disikapi dengan baik, seringkali terjadi salah paham.

Hal positifnya adalah, umumnya muncul kebiasaan baru pada pasangan yang sedang mengalami puber kedua, tampak mengutamakan penampilan dan menyenangkan bagi pasangannya karena menjadi lebih elegan, trendi, wangi. Sebenarnya perubahan seperti itu bisa membuat hubungan suami-istri menjadi lebih harmonis, serasa kembali ke masa muda. Hal ini tentunya bisa terjadi ketika ada toleransi antara kedua pihak dan komunikasi yang baik. Bagaimana caranya agar salah satunya tidak terjebak dalam percintaan semu, sepertinya hanya kedua belah pihak yang mengetahui jawabannya, karena mereka berdua telah mengetahui tabiat dan sifat masing-masing. Dan komunikasi itu sangatlah penting.

Selebihnya mungkin ada yang ingin menambahkan/membetulkan kesalahan asumsi atau sudut pandang, karena ini hanyalah beberapa tulisan dari beberapa sumber :D

*ditulis oleh seorang wanita yang bahkan belum menikah, hampura pisan! Asa culangung :))*

Categories: inspirasi, psikologi

6 comments

        • tiieee

          hehe, karena biasanya yang lebih buruk itu muncul lebih sering. seperti misalnya, ada orang baik yang baik bgt ampun2an, sekalinya berbuat salah, diingat sepanjang masa :D *iki opooooo :|*

          ahay, siyal. enak bangetnya dari hati banget ituuuuhhh.. *ngeledek abis [-(*

  • Kristy Nelwan

    Nice one :)

    Sebetulnya sama aja kaya hal lain, puber kedua bisa jadi sesuatu yang okay atau nggak okay, tergantung kitanya. Karena walaupun hormon berubah dan perasaan jadi agak nggak stabil, tapi kan kita nggak kena amnesia, masih bisa berpikir agak jernih. :p Eniwei, when it hit us, one thing we could tell ourselves is: “Don’t be stupid, what’s the point of growing up (or old) if we still repeat the same mistakes?”

    …janganlah kita jadi seperti om-om senang ataupun tante-tante girang itu, rujit ngeliatnya, udah tua masih labil. :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>