Always on My Mind

Senja sore tadi membuatku menghilang sementara demi menikmati tenggelamnya di ufuk barat. Bergegas pergi ke dataran tinggi terdekat dari kota. Hanya sebuah warung kopi biasa, namun view yang dapat dilihat dari sana sungguh superb. Warna jingga kemerahan selalu membuatku takjub. Aku duduk memandangi senja. Tak ingin senja cepat menghilang dan luput dari pandangan.

Disana aku kembali mendengar bisikan tentang senja. Sebuah senja yang mengingatkanku pada sesuatu. Sambil menikmati siluet gunung yang indah, mentari yang akan bersembunyi, lalu kudengarkan sebuah lagu untuk menemaniku menikmati senja di sore tadi.

Maybe I didn’t treat you
Quite as good as I should have
Maybe I didn’t love you
Quite as often as I could have
Little things I should have said & done
I just never took the time

Read More »

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Posted in fiksi, inspirasi, jalan-jalan | Tagged , | 1 Comment

Ribet? Ngga juga. Just feel it!

“Cinta adalah ketika engkau merasa terhubung dengan seseorang.
Orang yang mengubah hidupmu, membuka pikiranmu.
Yang membagi rahasia-rahasianya denganmu.
Yang mengerti dirimu, yang pikirannya bekerja dengan cara yang sama dengan pikiranmu.
Seseorang yang kamu kagumi dan menerima segala kebiasaan dan keanehanmu.
Yang ketidaksempurnaannya kau terima apa adanya.
Seseorang yang membuatmu merasa ada di rumah,
di mana pun kamu berada.”

—   Enno, 7112012

——-

Ada beberapa orang yang ribet banget nanya-nanya soal kapan nikah, kenapa belum punya pasangan, ini itu, yang kesannya mengintimidasi. Ada pula yang bilang, “gw cuma pengen elu bahagia”, hey, emang gue keliatan gak bahagia gitu? Ada lagi yang iseng banget bilang, “gw pengen ada seseorang yang jagain elu”, dan gw so far masih bisa handle sendiri kok. Maksutnya gini, nasehatin itu boleh, boleh banget, tapi jangan sampe yang dinasehatinnya itu merasa terintimidasi, merasa digurui, apalagi merasa urusannya terlalu dicampuri.

Selalu inget kata-katanya mba Devi Eriana, “There’s someone for everyone, it’s just a matter of time”. See? So far, saya masih nyantai aja walau ada orang yang bilang kalo umur segini, seperempat abad, udah injury time, menurut saya sih belum ya. Masih butuh waktu buat mencari nyaman yang bener-bener nyaman. Nyaman itu ngga bisa pura-pura. Nyaman itu hanya iya dan tidak. Nggak ada ruang abu-abu alias kepura-puraan. Ujung-ujungnya nanti harapan palsu, ish!

Saya agak kurang ngerti untuk beberapa orang yang terlalu mempertanyakan ini itu tentang pribadi saya, mereka bilang saya tertutup, ini itu. Buat saya, memang ada batasan-batasan tertentu yang membuat diri saya sendiri ngga mengijinkan beberapa orang dari mereka untuk masuk. Saya cukup extrovert kok, hanya saja pada orang tertentu. Kalo kamu bukan orangnya, berarti memang kita beda frekuensi. Jadi saling mendengarkan frekuensi masing-masing aja, daripada berusaha terus-terusan ada di frekuensi yang sama, tapi intermitten terus. Simple aja sih.

Jika pribadi saya sudah cukup terusik, bukan ngga mungkin saya menghindar, sebisa mungkin. Rumit? Hey, wanita itu semuanya rumit, yang membedakan hanya tingkat kerumitannya saja. Bersyukurlah jika saya masih membalas sapaan, masih ingin berbasa-basi, apalagi masih mau diajak ngobrol, tandanya saya ga ada masalah sama kamu. Tapi jika saya sudah terlihat menghindar, berbicara seperlunya saja, pasti ada sesuatu dalam diri saya yang mulai terusik, dalam hal prinsip atau privasi.

Sesuatu yang disebut nyaman, cinta, rasa, membuka hati, atau apalah yang berhubungan dengan itu, tidak bisa dipikirkan, tapi dirasakan. Jadi kalo ditanya, kenapa kamu ngga bisa membuka hati? Kenapa kamu ngga bisa nyaman sama dia? What should I answer. It’s just, my heart doesn’t feel it. Hati itu terhubung dengan sendirinya. Jangan memaksa, dan jangan dipaksakan.

Seperti beberapa kalimat pembuka diatas, cinta itu ketika kamu merasa terhubung. Jangan tanya caranya gimana merasa terhubung dan harus gimana supaya merasa terhubung, it just happens. Ketika kamu bertemu dan klik, seperti itulah rasanya. Saat ada banyak hal yang kamu tidak merasa rumit ketika bersamanya, walaupun kamu sendiri tau, diri kamu saja sudah cukup rumit.

And the last, feels like going home, and feels like at home whole day.

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 5.0/5 (2 votes cast)
Posted in curhat | Tagged , , , , | 8 Comments

Pesisir Pantai

ku beranjak dari tidurku
mencoba melukis pagiku
berharap keajaiban kan datang
daun tak bergerak
sang burung terdiam
menanti senyuman

berat ’tuk melangkah
memulai hari ini
namun semua itu sirna
kau kini ada

sebuah kecupan darimu
cukup membuat duniaku terasa lebih terang
secangkir teh hangat darimu
cukup ’tuk awali hari terindah dalam hidupku

Kau kini ada – Sheila On 7

Sore itu, kamu tiba-tiba bilang kalo besok pagi kita akan pergi ke suatu tempat. Kamu bilang aku ngga boleh banyak bertanya, hingga esok fajar menyingsing. Hmm, satu tempat? Ah, paling kawasan pegunungan dekat dengan kota ini. Aku pikir begitu. Aku sudah membayangkan dingin dan segarnya udara pegunungan, indahnya kebun teh di sekitarnya, dan lainnya.

Pagi tiba, dan aku tidak mempersiapkan apapun. Kamu pun tidak. Kita hanya memakai pakaian yang dipakai saja, dan tidak membawa bekal pun, tidak membawa kamera pun. Sama sekali tidak. Kemudian aku berfikir lagi, ngga jauh, ini mah ke Puncak. Eh tapi kenapa pagi-pagi begini? Puncak kan deket. Kamu hanya senyum-senyum melihat aku yang memang terlihat sedang berfikir. Kamu cuma bilang, kita mau ke pantai, sambil tersenyum.

Hee? Pantai?
Read More »

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Posted in jalan-jalan | Tagged | 4 Comments

A Tiny Bit of Perahu Kertas

Remi : “Kalau nggak begini, saya akan selalu meminta kamu untuk mencintai saya, Gy. Semua yang kamu lakukan adalah karena saya meminta. Carilah orang yang gak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya.

Bahu Kugy berguncang tanpa bisa lagi ia tahan.

Kugy : “Tapi … orang itu kan kamu … aku … aku nggak pernah minta apa-apa … tapi … tapi, kamu kasih semuanya …”

Kugy berkata terengah, di sela isakan dan desakan yang begitu kuat menyesak di dadanya.

Remi : “Iya, Gy.”

Remi mengangguk sambil mengusap air mata di pipi Kugy.

Remi : “Kamu mungkin sudah ketemu. Saya yang belum.

Suara Remi mulai bergetar.

Remi : “Saya yang belum …”

Ucapnya lagi, separuh berbisik. Seolah ia sedang memberi tahu dirinya sendiri.

Remi lalu bangkit, sejenak mendekap Kugy yang masih terisak, dan ia melangkah pergi.

Bagian kecil dari film Perahu Kertas yang ouch! banget. Pasti banyak yang punya pengalaman sama dengan Remi ataupun Kugy, bahkan Keenan atau Luhde, but I thought, I’ve ever been on the same position as Remi. I keep it in silence of what, who, and when I felt it. But I did it in the past.

I find myself on Remi.

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Posted in curhat | Tagged | 6 Comments

Akrostik: Rectoverso

Tergelitik untuk mencoba membuat akrostik karena membaca sebuah tulisan disini. Maka inilah puisi akrostik pertama, seadanya dan sederhana yang dapat aku buat. Aku awali dengan Rectoverso. Kenapa? Karena disitu berkecamuk dua rasa, cinta dan benci. Entah ia terpisah satu sama lain, atau saling lebur.

Rasakanlah tiap-tiap bait di setiap sajak pagiku
Embun yang jatuh setetes demi setetes pada daun, selalu menjadi saksi bisu dalam setiap goresan tinta yang kutoreh dari lubuk hati terdalam
Cinta yang pernah terlalu tinggi untukmu, membuatku amat bodoh untuk terus membiarkan pikiran ini berkecamuk hanya karena penuh dengan namamu
Tentu saja aku harus berpikir ulang, mengapa aku harus memikirkanmu disaat kamu memikirkan dia?
Oh, Pencipta alam semesta Sang Pembolak-balik Hati, ijinkanlah aku membalut yang telah patah, memohon kepadamu untuk segera mengganti yang hilang

Visualisasi senja yang seringkali muncul, punya dua makna untukku, setidaknya mulai saat ini
Entah itu senja yang mengingatkanku pada kumpulan hal indah yang memang sengaja kukumpulkan di sebuah tempat di satu senja, ataukah senja yang segera mengingatkanku pada sebuah kematian mengenaskan di salah satu senja yang pernah aku ramu dengan penuh  kasih
Rasanya aku ingin ikut mati, tapi kuurungkan niatku, aku hanya mati suri, dan suatu hari, atau besok, aku akan bangkit lagi dengan rasa bahagia yang kubuat sendiri
Selalu ada senja yang akan kita lewatkan setiap harinya, dan selalu ada senja yang mengingatkanku pada kedua hal tadi
Oh, tapi senja berikutnya mulai esok hari, tidak akan ada lagi kamu di pikiranku.

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
Posted in curhat | Tagged , | 12 Comments

Bisikan Senja

Sebuah hal bodoh mungkin. Katakanlah begitu.

Hari kesepuluh, di bulan September, entah kenapa, pemikiran aku tertuju pada sebuah ide untuk membuat sesuatu di 6 hari berikutnya. Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan film From Bandung With Love yang bilang, “Apapun bisa terjadi dalam 6 hari”. Tentu saja tidak ada hubungannya dengan film itu. It just happen. Yap, di hari ke enambelas di bulan September, dia berulangtahun. Ada beberapa hal yang masih membuat aku tidak suka dengannya, tapi ada hal lain yang justru membawa aku pada keinginan untuk membuatnya bahagia. Entahlah.
Read More »

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Posted in curhat | Tagged , , | Leave a comment

[Hanya] Kenangan

If we were friends again, I might fall back down the same path. So being stranger is the best for us. via @ihatequotes #traveloveing

Just give me some space, sampai semuanya netral lagi ya happy Ibarat lagi makan junk food di restoran franchise yang terkenal, kalau mau makan di meja yang masih kotor banget belum diberesin gitu kan jadi males banget. Jadi nunggu mejanya rapi dulu, abis itu kita bisa duduk sambil makan pesenan yang udah dipesen. Lalu bisa makan dengan nyaman. Begitu juga dengan hati. Memasuki hati yang masih dihinggapi rasa-rasa yang tertinggal di masa lalu kok ya nggak nyaman banget. Berlindung dibalik kalimat, “Aku berusaha baik sama semua orang, begitu juga dengan orang-orang di masa lalu aku”. Hmm, ngga semuanya juga mesti dibaikin kan ada porsinya, dear happy
Read More »

VN:F [1.9.20_1166]
Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
Posted in curhat, fiksi | Tagged , , | 2 Comments